Pelaksanaan : Senin, 17 November 2025
Pilihlah
salah satu temanmu untuk membacakan informasi berikut !
Cerita
rakyat dan sejarah sejatinya mengandung ilmu pengetahuan dan makna kebajikan
yang bermanfaat. Sering tanpa disadari, bahwa dalam sebuah sejarah terdapat
sebuah makna yang banyak mengajarkan arti hidup. Misalnya, kesenian
wayang. Wayang diciptakan Sunan Kalijaga sebagai metode dakwah Islam agar dekat
dengan kehidupan masyarakat.
Punakawan
merupakan tokoh pewayangan yang diciptakan oleh seorang pujangga Jawa. Punakawan
berasal dari kata pana (artinya paham) dan kawan (artinya
teman). Punakawan terdiri dari empat tokoh : Semar dan ketiga anaknya, yaitu
Gareng, Petruk, dan Bagong. Para Punakawan ditampilkan sebagai kelompok
penceria dengan humor-humor khas untuk mencairkan suasana. Selain itu,
Punakawan juga memiliki karakter yang mewakili manusia.
1.
SEMAR Sosok Semar sangat misterius, seolah
antara nyata dan tidak nyata. Dalam cerita pewayangan, Semar jumeneng sebagai
seorang Begawan, sekaligus sebagai simbol rakyat jelata. Semar juga dijuluki
manusia setengah dewa. Dalam perspektif spiritual, Ki Lurah Semar mewakili
watak yang sederhana, tenang, rendah hati, tulus, tidak munafik, tidak pernah
terlalu sedih dan tidak pernah tertawa terlalu riang. Keadaan mentalnya sangat
matang, tidak kagetan dan tidak gumunan. Ki Lurah Semar bagaikan air tenang
yang menghanyutkan, di balik ketenangan sikapnya tersimpan kejeniusan,
ketajaman batin, kaya pengalaman hidup dan ilmu pengetahuan. Semar
menggambarkan figur yang sabar, tulus, pengasih, pemelihara kebaikan, penjaga
kebenaran dan menghindari perbuatan dur-angkara. Ki Lurah Semar juga dijuluki
Badranaya, artinya badra adalah rembulan, naya wajah. Atau Nayantaka, naya
adalah wajah, taka : pucat. Keduanya berarti menyimbolkan bahwa Semar memiliki
watak rembulan. Dan seorang figur yang memiliki wajah pucat, artinya Semar
tidak mengumbar hawa nafsu.
2.
PETRUK Ki Lurah Petruk adalah putra dari
Gandarwa Raja yang diambil anak oleh Ki Lurah Semar. Petruk memiliki nama
alias, yakni Dawala. Dawa artinya panjang, la, artinya ala atau jelek. Sudah
panjang, tampilan fisiknya jelek. Hidung, telinga, mulut, kaki, dan tangannya
panjang. Namun jangan gegabah menilai, karena Lurah Petruk adalah jalma tan
kena kinira, biar jelek secara fisik tetapi ia sosok yang tidak bisa
diduga-kira. Gambaran ini merupakan pralambang akan tabiat Ki Lurah Petruk yang
panjang pikirannya, artinya Petruk tidak grusah-grusuh (gegabah) dalam
bertindak, ia akan menghitung secara cermat untung rugi, atau resiko akan suatu
rencana dan perbuatan yang akan dilakukan. Petruk Kanthong Bolong,
menggambarkan bahwa Petruk memiliki kesabaran yang sangat luas, hatinya bak
samodra, hatinya longgar, plong dan perasaannya bolong tidak ada yang
disembunyikan, tidak suka menggerutu dan ngedumel.
Petruk Kanthong Bolong wajahnya selalu tersenyum, bahkan pada saat sedang
berduka pun selalu menampakkan wajah yang ramah dan murah senyum dengan penuh
ketulusan. Petruk mampu menyembunyikan kesedihannya sendiri di hadapan para
kesatria bendharanya. Sehingga kehadiran petruk benar-benar membangkitkan
semangat dan kebahagiaan tersendiri di tengah kesedihan. Prinsip “laku” hidup
Ki Lurah Petruk adalah kebenaran, kejujuran dan kepolosan dalam menjalani
kehidupan. Bersama semua anggota Punakawan, Lurah Petruk membantu para kesatria
Pandhawa Lima (terutama Raden Arjuna) dalam perjuangannya menegakkan kebenaran
dan keadilan.
3.
BAGONG Bagong adalah anak ketiga Ki Lurah
Semar. Secara filosofi Bagong adalah bayangan Semar. Sewaktu Semar mendapatkan
tugas mulia dari Hyang Manon, untuk mengasuh para kesatria yang baik, Semar
memohon didampingi seorang teman. Permohonan Semar dikabulkan Hyang Maha
Tunggal, dan ternyata seorang teman tersebut diambil dari bayangan Semar
sendiri. Setelah bayangan Semar menjadi manusia berkulit hitam seperti rupa
bayangan Semar, maka diberi nama Bagong. Sebagaimana Semar, bayangan Semar
tersebut sebagai manusia berwatak lugu dan teramat sederhana, namun memiliki
ketabahan hati yang luar biasa. Ia tahan menanggung malu, dirundung sedih, dan
tidak mudah kaget serta heran jika menghadapi situasi yang genting maupun
menyenangkan. Penampilan dan lagak Lurah Bagong seperti orang dungu. Meskipun
demikian Bagong adalah sosok yang tangguh, selalu beruntung dan disayang
tuan-tuannya. Maka Bagong termasuk punakawan yang dihormati, dipercaya dan
mendapat tempat di hati para kesatria. Istilahnya bagong diposisikan sebagai bala
tengen, atau pasukan kanan, yakni berada dalam jalur kebenaran dan selalu
disayang majikan dan Tuhan.
4.
NALA GARENG Gareng ialah anak Gandarwa (sebangsa
jin) yang diambil anak angkat pertama oleh Semar. Nala Gareng (artinya hati
yang kering, kering dari kemakmuran, sehingga ia senantiasa berbuat baik). Gareng
senang bercanda, setia kepada tuannya, dan gemar menolong. Dalam pewayangan ia pernah
menjadi raja bernama Prabu Pandu Bergola di kerajaan Parang Gumiwang. Ia sakti
mandraguna, semua raja ditaklukkannya. Tetapi ia ingin mencoba kerajaan Amarta
( tempat ia mengabdi ketika menjadi punakawan). Semua satria pandawapun
dikalahkannya. Sementara itu Semar, Petruk dan Bagong sangat kebingungan karena
kepergian Gareng. Prabu Kresna menyarankan kepada Semar, jika ia ingin bertemu
dengan Gareng relakanlah Petruk untuk menghadapi Pandu Bergola. Semar tanggap
dengan ucapan Krena, sedangkan hati Petruk menjadi ciut nyalinya. Petruk
berfikir Semua raja juga termasuk Pandawa saja dikalahkan Pandu Bergola, apa
jadinya kalau dia yang menghadapinya. Melihat kegamangan Petruk, Semar mendekat
dan membisikkan sesuatu kepadanya. Setelah itu petruk menjadi semangat
dan girang, kemudian ia berangkat menghadapi Pandu Bergola.
Saat pertempuran terjadi Pandu Bergola berubah wujud menjadi Gareng. Begitu
tahu wujud asli Pandu Bergola. Gareng melakukan
itu dia ingin mengingatkan tuan-tuannya (Pandawa), jangan lupa karena sudah
makmur sehingga kurang/ hilang kehati-hatian serta kewaspadaannya. Bagaimana
jadinya kalau negara diserang musuh dengan tiba-tiba? negara akan hancur dan
rakyat menderita. Maka sebelum semua itu terjadi Gareng mengingatkan pada
rajanya.
TUGAS LITERASI: Tulis kisah tersebut di buku literasimu dan temukan hal-hal yang dapat diteladani dari kisah Punokawan tersebut!

Komentar
Posting Komentar