Syekh Wasil : Ulama Penyebar Islam Pertama di Kediri

 

LITERASI 12 – Senin, 26 Januari 2026

Pilihlah salah satu temanmu untuk membacakan kisah berikut di depan kelas dan kerjakan tugasnya !

Kediri merupakan salah satu daerah yang memiliki karakteristik bersejarah dalam hal penyebaran agama Islam di Nusantara. Jejak syiar Islam di Kediri tak bisa dipisahkan dari sosok Syekh Wasil Syamsudin alias Mbah Wasil atau Pangeran Makkah. Syekh Wasil merupakan sosok  perintis penyebar agama Islam di Kediri.

Mbah Wasil memiliki nama lengkap Syekh Syamsuddin Al-wasil atau Sulaiman Wasil Syamsuddin, ulama asal Persia yang berdakwah di Kediri dan hidup pada abad ke-12, yaitu pada masa Kerajaan Kediri. Syekh Wasil datang ke Kediri untuk berdakwah atas permintaan Raja Kediri Jayabaya yang memerintah dari tahun 1135 hingga 1159. Syekh Wasil didatangkan untuk membahas kitab Musyarar, yang berisi ilmu pengetahuan khusus seperti perbintangan (ilmu falak) dan nujum (ramal-meramal). Masyarakat setempat di Kediri menyebut Syekh Wasil sebagai Mbah Wasil yang diyakini merupakan guru spiritual Prabu Jayabaya.

Masyarakat memberi panggilan sebagai Mbah Wasil karena saat beliau berdakwah selalu dekat dengan masyarakat dan selalu memberikan petuah kebaikan atau disebut “wasil/wasilah” (petuah yang baik).  Sosok Syekh Wasil sangat penting bagi masyarakat Kediri sejak zaman dulu hingga sekarang. Sebab setiap ada hajatan atau keinginan, hal yang sering dilakukan Masyarakat adalah bertawassul dengan nama beliau. 

Kedatanga Syekh Wasil bukan langsung menyebarkan Islam kepada masyarakat luas, melainkan melalui pendekatan kepada para penguasa dan bangsawan, khususnya Raja Jayabaya. Metode dakwah Syekh Wasil sangat unik dan efektif. Beliau memulai dengan sosialisasi dan pendekatan personal, menyampaikan ajaran Islam melalui petuah dan contoh perilaku yang baik. Pendekatan ini berhasil membuka hati masyarakat Kediri untuk menerima Islam secara perlahan-lahan.

Berkat metode dakwah tersebut, banyak masyarakat Kota Kediri yang akhirnya memeluk agama Islam. Agama Islam akhirnya diterima dan berkembang pesat di daerah yang sekarang dikenal sebagai kota Kretek itu.  Sejumlah masjid pun dibangun. Salah satunya Masjid Setono Gedong. 

Bahkan, beberapa masyarakat setempat percaya bahwa Kitab Jongko Joyoboyo yang berisi tentang ramalan Raja Joyoboyo untuk pulau Jawa merupakan hasil dari kedekatan Syekh Wasil dengan Raja Jayabaya.

Selain berdakwah, Mbah Wasil diduga juga terlibat dalam proses penyatuan Kerajaan Jenggala dan Panjalu pada 1135 Masehi. Pada peristiwa itu Jayabaya dibantu oleh adik Mbah Wasil bernama Ali Akbar Sagalor. Dia bertindak sebagai panglima perang yang tercatat di Prasasti Hantang dengan semboyan Panjalu Djayati yang artinya Kediri Menang.

Makam Syaikh Syamsuddin Al-Wasil terletak di kompleks makam Setono GedongKediri. Kompleks makam ini terletak di dalam Kota Kediri, tepatnya di pusat kota yang bisa dicapai dari Jalan Dhoho belok ke kanan, masuk kampung Setono Gedong. Sekitar 100 meter dari ujung kampung, terletak Masjid Setono Gedong. Kompleks makam Syaikh Syamsuddin Al-Wasil terletak di barat laut masjid.

Bukti arkeologis keberadaan Mbah Wasil dapat dilihat melalui prasasti yang terletak di balik gapura makam. Di antara ornamen bermotif sulur dan medalion, terdapat lempengan batu dengan tulisan berbahasa Arab. Jika diterjemahkan, bunyi kalimatnya yaitu “Ini makam imam yang sempurna, seorang alim mulia yang saleh, yang menghafal Kitab Allah Maha Tinggi, yang menyempurnakan syariat Nabi.

Makamnya tak pernah sepi dari peziarah. Terlebih saat bulan Ramadan saat ini. Hingga kini makam Mbah Wasil masih menjadi tujuan masyarakat untuk berziarah. Ini pula yang membuat geliat perekonomian warga sekitar tumbuh, selain keberadaan lokasi makam yang berada di pusat perdagangan Kota Kediri.

Menurut cerita tutur yang berkembang di masyarakat, makam Mbah Wasil semula berada di tempat terbuka. Untuk menghormati jasa-jasanya, dibangunlah makamnya oleh seorang Bupati Suryo Adilogo (menurut sumber historiografi adalah mertua Sunan Drajat putra Sunan Ampel) hidup di abad ke-16.

TUGAS LITERASI :

Tulis kisah tersebut di buku literasimu dan sebutkan apa saja nilai-nilai yang bisa diteladani dari kisah Mbah Wasil tersebut ! 



 

 

Komentar