Senin,
10 Agustus 2026
Pilihlah
salah satu temanmu untuk membacakan cerita berikut di depan kelas !
Sunan
Kalijaga lahir pada tahun 1450 Masehi dari pasangan bangsawan Tuban, yaitu
Tumenggung Wilatikta (bupati Tuban saat itu) dan Dewi Nawangrum. Karena berdarah
bangsawan, sejak kecil ia diberi gelar sebagai Raden Mas Said. Sunan Kalijaga
diketahui lahir ketika masa kejayaan Kerajaan Majapahit berada di ujung tanduk.
Rakyat hidup dalam kesengsaraan karena penguasa Majapahit mewajibkan rakyat
membayar upeti sangat tinggi.
Saat
remaja, Raden Mas Said mulai prihatin dengan kehidupan masyarakat di sekitar
tempat tinggalnya. Ia mendengar langsung tangisan bocah yang kelaparan dan
meminta makan pada orang tuanya. Ia juga menyaksikan dengan mata kepala
sendiri, ketidakmampuan para orang tua untuk mengatasi rasa lapar anak-anak
mereka. Ia memang tidak merasakan langsung penderitaan tersebut karena putra
seorang adipati. Namun, ia tidak bisa tidak mengacuhkan kesengsaraan rakyatnya
sendiri.
Raden
Said memutuskan untuk menjadi seorang pencuri dan aksi pertamanya ia lakukan di
gudang kadipaten sendiri. Saat itu, ia mengambil berbagai bahan makanan dari
gudang dan membagikannya kepada rakyat yang membutuhkan secara diam-diam setiap
malam. Rakyat sendiri tidak mengetahui dari mana asalnya bahan makanan
tersebut, namun kejadian ini terus terjadi selama beberapa waktu. Mereka
kemudian memberikan julukan “maling cluring” kepada pelakunya. Mengetahui
perbuatan anaknya, Adipati Wilatikta marah besar lalu mengusir Raden Said dari
istana keluar dari wilayah Kadipaten Tuban.
Raden
Mas Said terus berjalan mengikuti arah langkah kakinya hingga dia sampai di
hutan Jatiwangi, kawasan Lasem, Rembang, Jawa Tengah. Di hutan inilah dia
bertemu dengan seorang lelaki tua yang memiliki tongkat emas yang ternyata
adalah Sunan Bonang. Dari Sunan Bonang, ia belajar bahwa kebenaran yang hakiki
adalah kebenaran yang dijalankan dengan benar dan membawa kebaikan kepada
siapapun.
Raden
Mas Said menyadari bahwa yang dilakukannya adalah perbuatan keliru. Kepedulian
pada rakyatnya memang sikap yang mulia, namun karena dilakukan dengan cara yang
salah, kepedulian tersebut menjadi sesuatu yang keliru. Setelah melihat
kedalaman ilmu agama dan kearifan Sunan Bonang, muncul keinginan
dalam diri Raden Said untuk berguru padanya. Maka jadilah Sunan Bonang sebagai
guru pertama Raden Said.
Sebagai
seorang murid, Raden Said sangat patuh pada gurunya. Bahkan pada saat Sunan
Bonang memintanya untuk menunggu tongkat emasnya yang ditancapkan di tepi
sungai, Raden Said tidak pernah beranjak sedikitpun dari tempatnya hingga Sunan
Bonang datang kembali. Raden Said harus menunggu selama tiga tahun
sebelum bertemu kembali dengan gurunya dengan cara bersemedi di pinggir sungai.
Saking khusyuk dan lamanya dia bersemedi, tubuh Raden Said tertutup oleh
tumbuhan merambat dan semak belukar di sepanjang pinggiran kali. Setelah itu,
Raden Said mulai dikenal dengan sebutan “Jogo Kali” yang akhirnya berubah
menjadi “Kali Jogo” atau Kalijaga.
Sunan
Kalijaga sendiri memiliki umur yang panjang, yaitu 100 tahun lebih dan
mengalami empat masa pemerintahan kerajaan yang berbeda, yaitu 1) masa kerajaan
Majapahit (hingga tahun 1478 M) saat masih muda,2) masa Kesultanan Islam Demak
(1481 – 1546 M), saat itu Sunan Kalijaga berperan besar dalam pembangunan
masjid agung Demak, 3) masa Kesultanan Pajang (1546 – 1568 M), peran Sunan
Kalijaga terdapat pada kisah muridnya, Jaka Tingkir, 4) masa awal Mataram Islam
di Yogyakarta (1580-an).
Semasa
hidupnya, Sunan Kalijaga dikenal sebagai dalang ulung oleh masyarakat. Beliau
memang pintar menggabungkan ajaran Islam dengan tradisi dan budaya yang sudah
mengakar dalam kehidupan masyarakat Jawa saat itu. Sunan Kalijaga bahkan
menggabungkan naskah kuno dengan ajaran Islam ketika menggelar pertunjukan
wayangnya diantaranya seperti Layang Kalimasada, Lakon Dewa Ruci, Lakon Petruk Jadi
Raja, dan sebagainya. Selain itu, Sunan Kalijaga juga menggunakan tembang,
topeng, pakaian untuk pergelaran kesenian dan lainnya dalam dakwahnya. Beberapa
tembang ciptaan Sunan Kalijaga sampai sekarang masih dinyanyikan oleh
masyarakat Jawa, seperti tembang ilir-ilir. Tembang ini tersirat makna bahwa
manusia diharapkan dapat bangkit dari kesedihan, berjuang untuk mendapatkan
kebahagiaan, dan mengumpulkan amal baik sebanyak mungkin.
Tugas
Literasi :
1.
Tulislah informasi tersebut di buku literasimu !
2.
Hal-hal apa saja yang dapat diteladani dari Kisah Sunan Kalijaga ? Jelaskan !
.jpg)
Komentar
Posting Komentar