Gunung Krakatau

 

Senin,14 September 2026

Pilihlah salah satu temanmu untuk membacakan informasi berikut di depan kelas !

Indonesia memiliki lebih dari 130 gunung berapi aktif. Gunung-gunung berapi tersebut membentuk poros sistem busur Kepulauan Indonesia yang terbentuk akibat penunjaman Lempeng Indo-Australia ke arah timur laut. Sebagian besar gunung berapi ini berada di sepanjang dua pulau terbesar di Indonesia, yaitu Jawa dan Sumatra. Kedua pulau tersebut dipisahkan oleh Selat Sunda, yang terletak pada suatu kelokan poros busur kepulauan. Krakatau berada tepat di atas zona penunjaman antara Lempeng Eurasia dan Lempeng Indo-Australia, tempat batas kedua lempeng berubah arah secara tajam, yang menyebabkan kerak bumi di kawasan ini menjadi luar biasa lemah.

Krakatau merupakan komplek pegunungan vulkanik aktif yang berada di tengah Selat Sunda. Gunung Krakatau ada sejak zaman dahulu, yang dikenal dengan nama Krakatau Purba. Gunung Krakatau Purba diperkirakan  memiliki tinggi 2.000 mdpl dengan diameter hingga 11 km yang terletak di tengah laut. Krakatau Purba pernah meletus hebat pada tahun 535 M, yang menyebabkan terbentuknya Selat Sunda dan memusnahkan peradaban lokal di Lampung dan Banten selama 20–30 tahun. Letusan paling terkenal terjadi pada 26–27 Agustus 1883, yang menghasilkan tsunami setinggi hingga 40 meter, awan panas, dan abu vulkanik yang menyebar ke seluruh dunia. Letusan ini menewaskan sekitar 36.000 orang dan mengubah pola cuaca global, termasuk menurunnya suhu rata-rata dunia sekitar 1,2°C selama beberapa tahun Suara letusan terdengar hingga ribuan kilometer, termasuk ke Australia dan Pulau Rodrigues di Samudra Hindia

Setelah letusan 1883, sebagian besar Krakatau hilang, tetapi pada tahun 1927 muncul Anak Krakatau, yang berarti "anak dari Krakatau". Gunung ini terus tumbuh sekitar 5 meter per tahun karena aktivitas vulkanik yang berkelanjutan dan menjadi salah satu dari 130 gunung api aktif di Indonesia, termasuk dalam jalur Cincin Api Pasifik. Pada awal kemunculannya, Anak Krakatau sering kali tenggelam kembali ke laut setelah letusan-letusan kecil, tetapi secara bertahap gunung tersebut mulai stabil dan membentuk pulau vulkanik yang terlihat hingga saat ini.

Pada 22 Desember 2018, Anak Krakatau mengalami erupsi yang mengakibatkan runtuhnya sebagian lereng gunung. Hal ini memicu longsoran bawah laut yang menyebabkan tsunami di sekitar wilayah pesisir Selat Sunda. Tsunami tersebut melanda kawasan Banten dan Lampung, menewaskan lebih dari 400 orang dan menyebabkan kerusakan signifikan di daerah-daerah pantai. Runtuhnya sebagian gunung juga mengurangi ketinggian Anak Krakatau dari 338 meter menjadi sekitar 110 meter.

Peristiwa ini menegaskan potensi bahaya yang masih ditimbulkan oleh gunung berapi aktif seperti Anak Krakatau. Tsunami yang dihasilkan oleh letusan ini menjadi pengingat betapa berbahayanya aktivitas vulkanik, terutama di kawasan padat penduduk seperti Indonesia. Kondisi geologis Anak Krakatau yang terus berkembang juga membuatnya menjadi subjek penelitian bagi para ahli vulkanologi.

Selain dampak langsung terhadap manusia, letusan-letusan Anak Krakatau juga memengaruhi ekosistem di sekitarnya. Letusan gunung api menyemburkan material vulkanik seperti abu dan batuan, yang dapat merusak vegetasi dan habitat hewan di pulau-pulau sekitarnya. Namun, material vulkanik ini juga memiliki manfaat, seperti memperkaya tanah dengan mineral yang baik bagi pertumbuhan tanaman. Proses pemulihan ekosistem di sekitar Anak Krakatau sering kali menjadi topik menarik bagi para peneliti.

Di sisi lain, Anak Krakatau juga memiliki daya tarik tersendiri bagi para wisatawan. Meskipun letusan gunung berapi menyimpan risiko, banyak orang yang tertarik untuk melihat langsung gunung api yang terus tumbuh ini. Wisatawan dapat mengamati aktivitas vulkanik dari jarak aman dan menyaksikan fenomena alam yang luar biasa ini. Hal ini mendukung sektor pariwisata di daerah sekitar, terutama bagi komunitas lokal yang memanfaatkan potensi wisata gunung berapi untuk meningkatkan perekonomian.

Erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda yang terjadi pada Jumat, 4 September 2026 pukul 23.07 WIB, mengakibatkan sebaran abu vulkanik di lima provinsi, dan mengakibatkan gangguan ratusan penerbangan. Badan Geologi menyebut fenomena erupsi tersebut merupakan jenis lava fountain atau air mancur lava yang disertai lontaran material vulkanik. Saat ini, status Anak Krakatau berada pada Level III atau Siaga. Masyarakat diminta tidak melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif.

Anak Krakatau adalah contoh nyata bagaimana alam dapat memunculkan kehidupan baru dari kehancuran. Meskipun terbentuk dari letusan dahsyat yang menimbulkan bencana besar, Anak Krakatau kini menjadi objek studi ilmiah dan daya tarik wisata yang menarik. Namun, gunung ini tetap menyimpan ancaman yang serius, terutama mengingat aktivitas vulkaniknya yang terus berlanjut. Peristiwa letusan dan tsunami pada tahun 2018 menjadi pengingat akan potensi bahaya yang ditimbulkan oleh gunung api ini. Sebagai salah satu gunung api paling aktif di Indonesia, Anak Krakatau membutuhkan pengawasan dan penelitian yang terus menerus untuk mengurangi risiko bencana di masa depan.

Tugas Literasi :

1. Tulislah informasi tersebut di buku literasimu !

2. Berdasarkan informasi tersebut, hal positif apa yang dapat kamu pahami agar menjadi manusia yang bijak terhadap alam ?   



Komentar